Senin, 11 Mei 2009

Aku dan sejarahku

http://usm.maine.edu/maps

oleh | Mirza sulfari

Manusia adalah makhluk yang hidup dalam ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang penuh dengan keterbatasan dari jangakauan dan jarak dalam kehidupannya. Secara material “Aku” sebagai manusia yang penuh dengan batas-batas jarak, jangkauan yang akan melahirkan sejarah baru. Sejarah baru untuk menentukan kehidupanku dalam sebuah lingkungan “Aku” secara material. Sedangkan “Aku” manusia secara imaterial memiliki kehendak bebas dalam menentukan kehidupaku terhadap lingkunganku. Imaterial itu “Aku” miliki dalam proporsi berfikir memakai logika, imajenasi dan kreasi terhadap lingkunganku.

Menurut Benedetto Croce, sejarah adalah “......jejak rekam tentang kreasi jiwa manusia.....”. Aku sekarang adalah jejak rekam dari masa laluku. masa laluku “ter-program” dalam pikiranku sekarang ini. Maka “Aku” manusia secara material belum memiliki kehendak bebas yang utuh. Terbatas dengan ruang dan waktu. Karena bagian dari waktu itu adalah “Aku” dalam menentukan aktifitas sosial secara Jasad. Sejarah kehendak bebas dalam rutinitasku ialah berfikir, berimajenasi, dan berkreasi dalam menentukan kehidupanku secara imaterial dengan “Aku” bersama kehidupanku.

Ruang dan waktu itu selalu bersejarah dalam rotasi waktu yang relatif tidak tetap atau dinamis. Maka “Aku” manusia yang memiliki predikat sebagai aktor sejarah dan yang membuat sejarah. Itu secara materil “aku” manusia yang terbatas. Manusia yang tidak hidup dalam keadaan untuk tidak memilih, melainkan hidup dalam keadaan yang ditemuinya. Keadaan dimana “Aku” manusia yang dilahirkan dari warisan masa laluku. Maka “Aku” adalah makhluk deterministik dari masa yang lalu. Tidak bagi “Aku” sebagai manusia imaterial. Manusia yang hidup dalam keadaan untuk memilih, untuk memilih hidup dalam keadaan lingkungan yang ditemuinya. Keadaan dimana “Aku” manusia yang dilahirkan dari hari ini untuk masa yang akan datang.

Apakah itu yang dinamakan aktor sejarah atas kehendak bebas tindakanku dalam sejarah hidupku? “ya” itulah aktor sejarah. Yang hidup untuk memilih pilihan hidupnya. Jikalau aku tidak memilih untuk menjadi manusia hari ini. Maka aku tidaklah menjadi hari ini. Tetapi aku adalah aku yang dahulu dalam kehidupanku. Dengan Seperti saat manusia dilahirkan, manusia telah menemukan sebuah keadaan yang didapatkannya yaitu lingkungan keluarga yang dimiliknya. Ketika “Aku” dilahirkan, “Aku” diberikan predikat nama sebagai manusia yang terlahir. Nama itulah yang menjadi predikat sejarahku dalam kehidupan masa-masa yang akan datang dalam menentukan kehidupanku nanti. Sebut nama itulah Identitasku yang bersejarah. Aku dikatakan Manusia Karena memiliki identitas dan predikat yang melekat dalam diriku ketika aku terlahir. Selain nama yang aku miliki Aku pun memiliki akal sebagai kehendak bebas untuk menentukan kehidupan kelak nanti. Ketika aku ingin menjadi pintar, ketika aku menjadi orang yang baik dan ketika aku menjadi orang sukses. Itulah yang membedakanku dengan makhluk hidup yang lain. Mungkin secara material aku tidak berbeda dengan makhluk yang lain tetapi secara imaterial aku jelas berbeda dengan mereka yang lain “makhluk hidup”.

Sekarang aku masuk dalam sebuah lingkungan yang dinamakan keluarga. Sebuah lingkungan yang menjadikan sejarah salah satu awalku hidup di dunia keterbatasan ini. Lingkungan yang sebelumnya memiliki keteraturan-keteraturan hidup (Norma) yang disepakati secara kolektif (bersama) oleh individu-individu yang terintegrasi secara bersama. Jika aku keluar dari keteraturan-keteraturan itu maka yang akan terjadi adalah negasi (pengingkaran) terhadap kesepakatan-kesepakatan yang secara tidak formal telah disepakati sebelumnya. Setelah itu kesan yang didapat ketika Aku keluar dari norma-norma yang disepakati adalah menjadi bagian dari kausal primer (sebab-akibat utama) yang harus mengikuti alur logika hukum itu. Itulah yang membentuk aku dan sejarahku. Karena,

Aku mengenal diriku bukan aku yang kini.

Aku mengenal diriku sebagai aku yang dahulu.

Aku mengenal diriku dari identitas atau predikatku yang ditanamkan oleh lingkunganku.

Identitas dari hasil kreatif dan imajenatif manusia

Itulah aku, terintegrasi dalam alur sejarah lingkunganku.

to be continue......

Jumat, 27 Februari 2009

Manusia Mengenal Alamnya


Melalui akal (ide) dan pikiran, manusia dapat melakukan perkenalan terhadap gejala-gejala yang terjadi di sekilingnya. Akal dan pikiran menjadi alat manusia untuk mendekatkan diri kepada alamnya untuk memahami kecenderungan kejadian yang terjadi di sekelilingnya. Terkhusus pada pengalaman yang saya alami ketika saya mengikuti acara kelas di kaliurang. Tepatnya pada malam hari ketika acara api unggun. Teman saya mendekat kepada saya, lalu tanpa basa basi saya bertanya kepada teman saya. Kenapa ya, jika badan kita didekatkan ke api akan terasa panas? Teman saya menjawab, mungkin karena badan kita tidak dapat menerima panasnya api unggun itu. Sehingga kita akan merasakan panas. Saya bertanya kembali, sebenarnya Panas api itu yang menerima akal atau pancaindera kita? Kami berdua berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan yang lahir begitu saja. Kalau pendapatku, api itu sebenarnya tidak diterima oleh pancaindera kita, akan tetapi diterima oleh ide kita. Ide (akal) kita yang merespon panasnya api itu dan merasakannya adalah kulit tubuh kita. Akal kita yang merespon terjadinya panas pada kulit dan rasa panas itu dirasakan oleh rangsangan kulit kita. Artinya, kulit akan merasakan secara materi kejadian-kejadian yang terjadi sedangkan ide merasakan gagasan panas yang dimiliki oleh api, jiwa adalah keseluruhan panas yang dirasakan oleh kita dan akal kita merespon kejadian-kejadian secara konsep yang abstrak. Rasa panas itu terjadi karena adanya konsep (ide) yang dimiliki oleh kita sehingga kita mengenal rasa panas itu. Rasa panas itu kan sifatnya materil yang diterima oleh pancaidera kita. Materi yang dirasakan adalah panas. Panas api itu bagian dari api itu sendiri. Aksiden api itu adalah panas dan berwarna merah. Maka jika tubuh kita didekatkan kepada api maka yang dirasakan adalah rasa panas.
Manusia merupakan makhluk yang berakal yang dapat memahami dan menafsirkan sesuatu dilingkungannya. Melalui akal dan pikiran dapat dilakukan oleh manusia untuk mengenal alamnya dan sang pencipta alam. Melalui interpretasinya terhadap gejala-gejala yang dapat terjadi di sekilingnya. Akal dan pikiran menjadi alat manusia untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta melalui pemahamannya terhadap gejala-gejala yang terjadi di sekelilingnya. Dengan melalui akal dan pikiran yang dimiliki oleh umat Islam maka nantinya dapat mengenal Allah, takut kepada Allah, Cinta Kepada Allah dan Selalu bersujud kepada Allah. Ide dan gagasan atau akal dan pikiran suatu bagian yang terpisahkan oleh manusia untuk memahami realitas yang berada di luar dari lingkungan individunya secara mandiri. Ide biasa disebut oleh Plato dengan realitas sesungguhnya dari segala yang ada dari penginderaan yang dimiliki oleh manusia untuk mengenal lingkungannya. Karena ide tidak akan pernah mati dan tidak pernah berubah sekaligus tidak terbatas dalam memahami sesuatu yang diterima. Ketika sebuah ide memahai bunga maka yang berada dalam ide adalah bunga bukan bentuk-bentuk dari bunga. Karena bentuk-bentuk bunga seperti mawar, anggrek, itu merupakan aksiden-aksiden yang melekat dalam ide manusia.
Perubahan itu terjadi karena panca indera menangkap bentuk-bentuk. Sebuah perubahan yang terjadi karena panca indra menangkap sesuatu yang terbatas dengan memakai pancaindera. Dengan memakai ide, manusia dapat memahamai dan mengnal realitas sesungguhnya. Berbeda dengan penginderaan sebagai alat yang selanjutnya manusia untuk mengankap realitas untuk mengenal dengan jelas lingkungannnya. Penginderaan itu bersifat pragmatisme. Maksudnya, secara cepat manusia mengenal lingkungannya dan secara langsung menangkap realitasnya dengan keterbatasan yang dimiliknya. Seperti mata yang dapat melihat, tangan kita yang dapat meraba, mulut kita yang dapat mengucap, lidah kita yang dapat merasakan, telinga kita yang dapat mendengar dan hidung yang dapat mecium. Itu semua alat yang dimiliki oleh manusia untuk mengetahui dan memahami realitas yang terbatas dalam kehidupannya. Alas an bagi akal dan pikiran lebih kuat dari panca indra ialah, 1. ide tidak berkesudahan, 2 pancaidera berkesudahan, 3. ide tidak terbatas, 4. Pancaidera terbatas. 5. Akal menjangkau apapun. 6. Pancaindera sulit menjangkau apapun.