Selasa, 28 Desember 2010

Manusia Dan Sifat Dasarnya

Halo teman, sudah lama aku tidak menyapa teman-teman di ruang kecil maya ku ini, aku datang kembali dengan tulisan yang baru nih. Tulisan tentang Watak, Naluri dan Fitrah. Istilah-istilah ini aku dapat ketika dalam kesempatan yang kosong seorang teman mengajakku untuk main ke tempatnya. Kemudian aku berbincang-bincang dengan seorang teman di kontrakannya. Tiba-tiba seorang teman mempertanyakan, apa sih watak itu? Insting? Dan Fitrah itu? Seketika di sela-sela obrolan kita langsung terdiam dan harus memikirkan pertanyaan itu. Dengan adanya kesempatan melalui pertanyaan itu aku ingin menjawab pertanyaan dari teman tersebut melalui tulisan ini. Mungkin agak berat tema tulisanku kali ini tapi walaupun berat secara bersama kita pikirkan kan pasti tidak akan berat. Benar tidak?? , Mari kita diskusikan kembali tulisan ku ini. Mari bersama kita mengkerutkan dahi sejenak untuk berfikir tentang Watak, Naluri dan Fitrah!!
Apa itu watak, apa itu Naluri dan apa itu Fitrah?
1. Watak
Apa itu watak? Sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari tentang watak. Apalagi ketika ada seseorang yang sedang memperdebatkan sesuatu hal dan orang tersebut tidak mau kalah dalam perdebatan tersebut. Pasti orang tersebut berkata -keras kepala atau “batu” dan ditambahkan lagi dengan perkataan “memang udah wataknya keras kepala, jadi dia tidak mau kalah dalam perdebatan ini”. Tidak hanya disitu penjelasan dari watak. Karena ternyata watak pun tidak hanya dimiliki oleh manusia saja tapi benda hidup pun memiliki watak. Contohnya : jika kita akan bermaksud menjelaskan karakteristik (ciri khusus) dari oksigen, maka kita akan mengatakan, “wataknya adalah mudah terbakar” ataupun air yang memiliki “wataknya tidak mudah terbakar”. Jadi, kita pun dapat menyebut berbagai karakteristik asal benda tersebut dengan watak (sifat dasar) yang dimiliki sebagai sebuah pembanding dari bentuk-bentuk benda hidup yang satu dengan yang lainnya.
Maka manusia dalam hal ini dengan melalui akalnya, akan berfikir bahwa dua benda hidup tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dengan memiliki watak yang berbeda pula. Menurutnya, dua benda hidup tersebut memiliki karakteristik (ciri khususnya) yang sama yaitu cair akan tetapi berbeda dengan wataknya (sifat dasar) yaitu air yang tidak mudah terbakar dan oksigen yang mudah terbakar. Jika karakteristiknya berbeda, hal itu membuktikan bahwa kedua benda tersebut memiliki perbedaan dalam satu segi maupun lebih. Akan tetapi ketika kita melihat dan merasakan beberapa kesamaan dalam benda, maka boleh jadi kita pun akan berpendapat bahwa benda-benda hidup tersebut sama dalam bentuk maupun materinya, namun akan berbeda dalam sifat dan spesiesnya.
Dalam mengenal watak dari benda hidup maupun yang lainnya akan berbeda, karena manusia, benda hidup maupun benda mati memiliki definisi yang tidak menyeluruh (parsial). Pemikiran ini sudah sejak lama dikenal. Untuk itu, mereka (orang yang terdahulu) memperkenalkan kita dengan contoh-contoh yang telah diberikan kepada kita untuk lebih memahami watak dari manusia dan benda-benda tersebut. Contohnya, air dan oksigen memiliki bentuk dan materi. Begitu pula watak dari benda-benda hidup yang lainnya seperti api dan tanah. Akan tetapi masing-masing benda tersebut dapat dibedakan dari karakteristik dan watak yang dimilikinya, yang tidak dimiliki oleh benda lainnya. Berdasarkan itu, maka dapat dilihat bahwa manusia, benda hidup maupun benda mati memiliki potensi yang memperlihatkan karakteristiknya sebagai suatu kekhususan yang memunculkan sesuatu yang hanya dimilikinya. Potensi ataupun kekhususan itulah yang merupakan watak dari benda-benda tersebut sebagai sesuatu hal yang diketahui (reality).
Realitas yang diketahui oleh kita secara langsung adalah watak dari [ke]bendaaanya. Watak manusia atau benda tersebut diketahui secara langsung dari luar diri manusia. Suatu obyek yang dapat dialami dari luar dan dapat diukur maupun dipahami dan bergerak dalam ruang dan waktu. Terdapat banyak bukti bahwa adanya suatu unsur inti yang berada di dalam benda yang diberi nama watak. Kata-kata dari potensi, karakteristik maupun keistimewaan mengandung arti “adanya suatu yang mempunyai pengalaman, yang memberikan kesatuan yaitu benda”. Untuk itu, watak benda sebagai suatu yang dasar memiliki kualitas dalam perbedaan benda dengan benda yang lainnya. Potensi keistimewaan itulah yang menjadi dasar bagi kita untuk memahami keberadaan benda tersebut. Karena kita hanya sadar kepada karakteristik kebendaan sebagai suatu watak yang dimiliki oleh manusia dan benda-benda yang mengelilingi kehidupan kita saat ini.



2. Naluri/insting
Yang kedua adalah naluari atau insting. Biasanya istilah ini di gunakan untuk binatang. Naluri maupun insting merupakan suatu kondisi kesadaran yang tidak sempurna yang dimiliki oleh benda mati, hewan maupun manusia, suatu keadaan yang merupakan gabungan antara sadar dan tidak sadar yang dimiliki oleh hewan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti seekor kuda yang baru lahir mencoba untuk berdiri, tentu saja akan jatuh, akan tetapi dengan berusaha si anak kuda tersebut dapat berdiri tanpa harus di beritahu oleh induknya bagaimana caranya untuk berdiri dan setelah berdiri anak kuda itu merasakan haus, tanpa harus mencari kemana-kama untuk menghilangkan dahaganya maka si anak kuda tersebut menyelusup di bawah perut induknya dan setelah menemukan maka si anak kuda tersebut langsung menyusu. Hal-hal yang seperit ini berasal dari insting seorang anak kuda yang ingin melakukan geraknya tanpa melalui latihan terlebih dahulu.
Pengetahuan seperti inilah yang dapat kita katakan sebagai insting, yaitu suatu kondisi kesadaran yang tidak sempurna. Biasanya didalam insting ini terdapat kondisi setengah sadar yang dengan itu binatang-binatang dapat menjalankan perjalanan kehidupannya. Kehidupan tersebut bukan diperoleh dengan usaha tapi merupaka sifat dasar yang dimiliki oleh hewan. Kalau seperti itu, Apa yang di anggap sebagai kesadaran yang sempurna? Kesadaran yang sempurna itu berasal dari akal yang dimiliki oleh manusia yang didasarkan pada pengalam-pengalam yang secara tampak maupun tidak tampak. Seperti contoh : ketika kita mengendarai kendaraan roda dua maupun roda empat. Jika kita melakukan berkendara dengan setengah sadar maka yang akan terjadi ialah akan terjadi kecelakaan. Pasti dengan penuh kesadaran seorang berkendara melakukan berkendaraannya.
3. Fitrah
Dan yang terakhir adalah fitrah, Apakah fitrah? Istilah Fitrah ini biasanya dipredikatkan untuk manusia. Jarang sekali aku mendengar kata Fitrah ini dipredikatkan kepada hewan maupun benda-benda hidup yang lainnya. Maka istilah ini dapat digunakan untuk manusia berbeda dengan watak dan insting yang dapat digunakan oleh hewan dan benda-benda lain yang berada di sekeliling kita. Tetapi, sebagaimana halnya dengan insting, watak dan fitrah merupakan suatu bawaan alami yang dimiliki, karena “dia” merupakan sesuatu yang melekat secara langsung dalam diri manusia. Fitrah pun dapat disamakan dengan kesadaran. Sebab, manusia mengetahui apa yang ia ketahui sebelumnya. Karena fitrah berada dalam diri manusia dan berkumpul sebagai sesuatu sifat yang fitrah dan ia pun tahu tentang hal tersebut.
Ada sebuah analogi sederhana yang dapat menjelaskan bahwa manusia dalam mencapai kesempurnaan fitrahnya selalu membutuhkan perangkat-perangkat untuk dirinya dianggap sempurna, seperti contoh : seorang tukang kayu maupun tukang besi yang ingin membuat sebuah perangkat meja, dalam memenuhi kebutuhan pekerjaannya, maka tukang kayu maupun tukang besi tersebut terlebih dahulu mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan yang akan melengkapi pekerjaannya, seperti : kayu, pahat, bor dan sebagainya. Semua itu merupakan bahan-bahan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, baik dalam penyediaan dan pengembangan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Yang membedakan insting dengan fitrah ialah insting berkaitan langsung dengan hal-hal yang bersifat fisik yang dapat di contohkan dengan prilaku hewan sedangkan fitrah berkaitan langsung dengan masalah-masalah yang kita hadapi secara langsung yang berurusan langsung dengan sisi kemanusiaan kita. Oleh sebab itu, masalah-masalah tersebut di luar dari dunia binatang atau biasa kita sebut sebagai metahewani. Berarti kalo seperti itu, apakah fitrah itu merupakan masalah-masalah yang metahewani, yang bawaan dari dalam diri manusia? Kalau begitu, kebenaran yang dimiliki oleh manusia itu adalah “sesuatu” dan mencari kebenaran adalah sesuatu yang lain dari kebenaran itu. Artinya, manusia yang selalu berhadapan dengan sesuatu hal yang tidak diketahui akan berusah untuk mengetahui. Ia (manusia) akan selalu mencari pengetahuan yang belum di ketahuinya atau dapat dikatakan bahwa manusia merupakan suatu makhluk pencari kebenaran dan menjadi keharusan sosial bagi manusia untuk mencari kebenaran dan apakah mencari kebenaran itu fitrah bagi manusia?
Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Bisa dikatakan seperti itu. Manusia mencari kebenaran untuk menjadi baik. Konsep kebaikan merupakan pemikiran tentang suatu prilaku baik atau kita kenal dengan perikemanusiaan. Misalnya, biasa orang berkata “orang yang baik itu akan mendapatkan balasan yang baik pula” dan wajib bagi orang yang mendapatkan kebaikan dari orang lain untuk berterima kasih atas kebaikan yang diberikannya. Dengan demikian, tidak hanya idiom belaka bahwa orang yang memberikan perlakuan baik harus diberi balasan dengan kebaikan atau kebaikan dibalas dengan kebaikan.
Jadi hipotesa awal kita tentang fitrah dapat dikatakan sebagai sesuatu yang bersumber dari dalam diri manusia. Artinya, dari sejak lahir manusia merupakan makhluk yang telah ditanamkan ha-hal yang bersifat fitrah dan harus di pahami kembali bahwa manusia dilahirkan dari rahim seorang ibu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan Tuhan memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati untuk kita bersyukur terhadap[NYA] . Untuk itu, dalam pencarian manusia terhadap kebenaran itu merupakan fitrah yang diberikan oleh manusia untuk menjadi yang sempurna dan menjadikan hidupnya lebih bermakna dan berkualitas.

Makasih kawan udah menyempatkan waktu untuk berkunjung di tulisan saya ini. Besar harapan bagi saya untuk kawan dapat memberikan saran dan kritik atas tulisan ini. Wassalam, nuwun :)
Hormat saya


Pramoe Mirza,

_________________________
Sumber bacaan :
Fitrah : menyingkap hakikat, potensi dan jati diri manusia, Murthada Muthahhari, 2008.
Kamus Ilmiah Populer, Arkola, Surabaya, 1994

Tidak ada komentar: